cak moki

urun rembug seputar public health and ... mancing


PINDAH SEMENTARA

PINDAH ALAMAT

Sehubungan berbagai hal, untuk sementara saya pindah alamat di wordpress, maka bagi yang kebetulan nyasar di blog ini, dipersilahkan klik:



Blog ini sementara dalam kondisi istirahat sampai waktu yang tidak ditentukan.
Agar tidak penasaran, saya sampaikan beberapa alasan kepindahan saya ke wordpress.
  • Lebih friendly
  • Di komputer saya, akses lebih cepat
  • Mencoba kontak dengan blogger lain, agar bidang medis bisa ikut didiskusikan, dikritik, diberi saran untuk perbaikan
  • Dan lain-lain yang sangat subyektif
Terimakasih

Mengenalkan dapur layanan medis

Tindak lanjut dan konsekuensi dari posting sebelumnya adalah mengenalkan dapur layanan medis kepada mahasiswa.
Sejak sebelum puasa (seingat saya) mulailah membimbing adik-adik kita para calon dokter semester VII (psku unmul) langsung menghadapi penderita.
Tentu setelah melalui proses "formalitas".
Sampai kini ada 3 orang pembimbing di tempat dan waktu berbeda.
Jangan kaget, ini kan baru mulai, tak terencana, kecil-kecilan dan masih mencari bentuk ideal atau mendekati ideal.

Pengalaman 3 bulan pertama:
Tiap kelompok terdiri 4 orang, waktu setiap hari minggu (kecuali ada uts, us)

Tiga puluh menit pertama.

  • Memperkenalkan peralatan medis: spuit, needle, infus set, cath (otsucath, abocath, medicath), berbagai cairan dan tetek bengeknya.
  • Demo injeksi, im, iv dan sc (pakai adegan slow motion lho)
  • Mahasiswa memperagakan satu persatu

Setelah oke, menuju episode berikutnya

Satu jam berikutnya.

  • Mahasiswa di ajak keliling ruangan, diperkenalkan kepada penderita
  • Kembali ke UGD mempersiapkan peralatan, jenis dan dosis injeksi didampingi paramedis
  • Kembali ke ruangan, satu persatu mencicipi nyuntik iv (yang paling mudah)
  • Melakukan fisik diagnostik (setelah diberi contoh 2 pasien)

Satu jam berikutnya lagi.

Mendengarkan kesan dan harapan mahasiswa.
Kesan-kesan mahasiswa:

  • Ndredeg, walau sebelumnya sudah di latih berulang.
  • Asyik, mau nambah waktu.
  • Letaknya jauh (dari samarinda ke palaran sekitar 1 jam)
  • Paramedisnya ramah (kabar sebelumnya galak-galak)
  • Kelaparan (tuan rumah lupa)

Permasalahan

  • Belum terorganisir
  • Perlu sistem baku dan berkesinambungan
  • Mahasiswa yang sudah terlanjur co-ass mungkin merasa dianak tirikan (tapi nggak berani ngomong)
  • Perlu membentuk jejaring pelatihan teknis medis secara dini dengn RS dan klinik.
  • Mahasiswa minta ada panduan online (nah lagi-lagi informatika kedokteran ngga bisa ditunda-tunda)
  • Mahasiswa mengharapkan pedoman teknis kedaruratan medik yang ngga banyak teori (pr makin banyak)
  • Biaya ... rasanya belum perlu (entah nanti), yang penting jalan dulu dan nampak hasilnya.
    Perlu feedback dan dialog terus menerus dengan para mahasiswa, agar ditemukan formula ideal.

*acara mancing jadi tak menentu*

Catatan:
Untuk pasang infus masih ada kendala, kadang satu kelompok beruntung bisa mendapatkan kesempatan, demikian pula subcutan dan nebulizer.
Perjalanan masih panjang dan berliku ... namun rasanya bisa jika saling bahu membahu dilandasi semangat berbagi.

Hai sejawat tercinta, mohon sumbang saran dan pengalaman dong ... untuk adik-adik yang nanti bakal menggantikan kita ...
Ditunggu ...

Tindakan Medis dasar untuk mahasiswa kedokteran

Kapan sebaiknya mahasiswa kedokteran mempraktekkan Tindakan Medis Dasar?

Yang dimaksud "tindakan medis dasar" pada tulisan ini adalah ketrampilan tindakan medis sederhana yang biasa dilakukan oleh seorang dokter di institusi pelayanan tingkat pertama.

Begitu lulus dari pendidikan dan bertugas melayani penderita, seorang dokter mestinya sudah trampil tindakan-tindakan teknis medis sederhana, misalnya:
injeksi (im, iv,sc), memasang infus, pasang kateter, pasang nasal sonde, nebulizer, ekg, sinkronisasi hasil laboratorium dengan fisik diasnostk, minor surgery (Rossen plasty, extirpasi dll), resusitasi, formulasi cairan (GE, DBD, dll) dan ... apa lagi ya ...

Ketrampilan tersebut selain wajib, dapat menolong secara dini kasus-kasus yang mestinya dapat dilakukan di layanan kesehatan tingkat pertama dan dapat mengoptimalkan salah satu tugas dokter yakni bimbingan teknis kepada paramedis.

Desas desus menyebutkan bahwa kesempatan mengasah ketrampilan di atas makin sulit, konon rebutan dengan residen ...
Jikalau berita ini benar (bukan alasan), saya ikut TERHARU.
Bagaimana kelak setelah menjadi dokter lalu ditugaskan di tempat yang tidak ada "siapa-siapa" selain dirinya dan paramedis?
Akankah kasus-kasus seperti status asmatikus langsung dirujuk tanpa tindakan awal yang mungkin hanya perlu tindakan 5 sampai 30 menit?
Akankah sebuah puskesmas rawat inap tidak mampu merawat GE dengan dehidrasi berat, DBD derajat II-III karena si dokter tidak mampu melakukannya?
Akankah bom "kecil" ini kita biarkan?
Tegakah bila adik-adik kita nanti minim ketrampilan dasar karena tidak kita pedulikan?

Kisah nyata:
Seorang kemenakan saat ini menjalani co ass tahun kedua. Ketika ngobrol, dia mengatakan saat baru masuk co-ass "tingak-tinguk". Di ruangan hanya mengikuti dokter visite, hanya melihat. Syukur jika tiap bagian ada dokter residen atau dokter staf yang bermurah hati memberikan bimbingan teknis. Kalau tidak ?
Dia juga mengatakan bahwa bisa pasang infus ya saat co-ass itu tadi.... itupun di dapat di RSUD Magelang, karena di Jojga rebutan ... hahhh?!?
Hal yang sama terjadi juga ponakan lain di Unair, Surabaya.
Ketika pertama "diwaduli", saya hanya komentar pendek: " alaaa alasannya orang malas ".
Ponakan: " bener om, ...".
Sayapun bertanya-tanya kepada ts spesialis yang menjadi staf di RSUD dr. Soetomo, ternyata memang benar, kesempatan belajar ketrampilan tidak seluas dulu lagi, lebih-lebih dengan adanya pemendekan waktu kuliah.

Apa betul sih sistem bimbingan berantai dari dokter muda kepada adik-adiknya yang tingkat I dan seterusnya di klinik-klinik kecil dan RS satelit sudah hilang dari peredaran?
Maklum, saya tidak lagi mengikuti karena jauh nun di sini.
Rasanya dulu HMI, PMII, GMNI (yang lain lupa) atau yang independent melakukan hal itu.

Halo sejawat ... bagaimana pengalaman di tempat lain?
Jangan bilang sama ya, mungkin saja saya yang salah dengar ...
Karena, jika sama ... gimana mau meningkatkan mutu layanan, kalau salah satu mata rantai promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif ada yang bolong ...

Nah di Samarinda ada kedokteran Unmul (saat ini masih psku setelah naik pangkat dari ppd).
Alhamdulillah, kedokteran di Samarinda TIDAK ada bedanya ...

Bagaimana caranya agar adik-adik kita mahasiswa kedokteran bisa menguasai teknis medis dasar secara dini? ... Ada usul ?

Alkisah, setelah saya cio (career is over, istilah pak Anis) dari puskesmas dan diminta bantu-bantu di lab ikm psku unmul, ngajar perdana semester VII.
Iseng-iseng saya tanya:" siapa yang sudah bisa pasang infus ?"
Mhs: " ... beluuummm "... serempak
" Ada yang bisa nyuntik ?
Mhs: " ... beluuummm "... serempak
Usut punya usut, yang mau masuk co-ass pun ternyata belum pernah ngicipi nyuntik.

coming soon ... mengenalkan dapur layanan medis

otokritik: SPM Bidang Kesehatan

Sudah 5 (lima) tahun lebih Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan diluncurkan, jika dihitung dari keluarnya PP No 25 tahun 2000 tentang kewenangan Propinsi Bidang Kesehatan, ataupun Kepmenkes dan Kesos RI No. 1747/SK/XII/2000 tentang Pedoman Penetapan SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten / Kota.

Perundangan di atas merupakan tindak lanjut dan konsekwensi logis diberlakukannya UU Otonomi Daerah tahun 1999 yang menekankan desentralisasi, termasuk bidang kesehatan. Kemudian disusul dengan Surat Edaran Mendagri No. 100/757/OTDA, tanggal 8 Juli 2002, tentang Konsep Dasar Pelaksanaan Kewenangan dan SPM.

Untuk bidang kesehatan sebenarnya tidak perlu terlalu bingung atau kaget dengan adanya perubahan diatas, mengingat titik sentralnya adalah pemindahan sebagian kewenangan sebagaimana amanat UU. Dus inti persoalan adalah pelimpahan kewenangan, diantaranya pengelolaan dana dan belanja atau neraca anggaran bidang kesehatan dari pusat ke daerah. Seharusnya kondisi ini sinyal positif bagi jajaran kesehatan di daerah, mengingat sebelumnya daerah nyaris selalu menggerutu tentang tidak diikutkannya menentukan kebijakan anggaran, boleh dikata daerah hanya sebatas menyampaikan usulan dan sendiko dawuh, walaupun jauh sebelum Otonomi Daerah sudah sering digaungkan "bottom up planning".

Pro kontra tentang siap tidaknya daerah menerima delegasi kewenangan sempat marak. Terlepas berapa daerah yang siap dan berapa yang belum, menurut saya seyogyanya saat itu Depkes cepat tanggap dan totalitas dalam tatalaksana penyerahan sebagian kewenangan sebagaimana amanat UU tersebut.

Kenyataan? ... masih jua top down planning ... dan Depkes ngga salah 100% karena kadang Dinkes dati II masih kental budaya "nunggu petunjuk" warisan pra-desentralisasi. Kontradiktif ... kontraproduktif ...
Bukti nyata nuansa top down planning adalah lahirnya (kembali) rumusan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan bertajuk "Pertemuan Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kepada Daerah" di Surakarta, 13-14 Oktober 2003.
Menilik kandungan butir-butir didalamnya, tak lebih dari sebuah reinkarnasi produk Depkes di era 1980-1990 an. Sebagai pengingat, kita sudah punya Pedoman Kerja Puskesmas dilengkapi dengan Juknis tiap UPK, lalu pernah menelorkan Mikroplanning, Minilokakarya dan Stratifikasi, kemudian lahir Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP), SP2TP nan buanyak dan mbingungi serta aneka ragam produk lainnya.
Maka lahirnya SPM, Penjamas, Puskesmas Reformasi dan sejenisnya hanyalah pengulangan dengan perbedaan label belaka.
Memang benar, perundangan secara tekstual menyebutkan kalimat SPM, namun hakekat, substansi maupun isinya tidaklah jauh beda dengan produk yang sudah ada. Oleh karenanya penekanan kepada Daerah tingkat II pun seyogyanya lebih diarahkan kepada substansi dan isi, bukannya konsideran dan istilah semata.
Hal ini sangat penting agar daerah tidak tergopoh-gopoh dan juga buang biaya hanya untuk pelatihan ataupun workshop yang isinya adalah adegan ulangan sekuen sebelumnya. Lebih baik waktu dan energi tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan program kesehatan secara berkala plus modernisasi menggunakan TI.

Korban dari lelakon di atas tak lain dan tak bukan adalah ujung tombak pelaksana teknis di tingkat lapangan alias Puskesmas. Tak jarang pada bulan-bulan tertentu, biasanya bulan September-Oktober (untuk sistem anggaran saat ini), seorang kepala Puskesmas disibukkan dengan hajatan Dinkes Dati II berjudul workshop, pertemuan teknis atau istilah lain yang keren-keren. Tak jarang pula petugas Puskesmas meninggalkan tugas berurutan dengan petugas lain menghadiri berjudul-judul pertemuan. Apa isinya? Jujur saja, seperti reuni. Demi istilah baru.
Gerutuan para pelaksana teknis lapangan yang notabene adalah andalan kita, nyaris tak terdeteksi. Padahal mereka sering ngomel:" ganti lagi, ganti lagi ....yang lama baru bisa sudah ganti lagi ... blanko baru, cara ngisi baru ... ganti lagi".
Bila anggota keluarga kita sendiri sudah ngomel, bagaimana dengan Pemkab atau Pemkot sebagai penyedia dana? Jangan-jangan beliau-beliau juga menggerutu dimintai duit terus tapi disisi lain misalnya DBD tetap meningkat, pelayanan kesehatan apa adanya, pasien sering dimarahi dll ...dll.

Bocoran dari temen-temen Dinkes Dati II yang kebetulan saya tanya, jawabnya rata-rata adalah menghabiskan anggaran agar "tidak hangus".
Entah gurauan atau betulan, silahkan tanya sendiri ....di masing-masing Dati II.
Pun demikian dengan SPM, saya yakin tidak semua Dinkes Dati II memiliki definisi operasional SPM. Silahkan cek ke satu Puskesmas setiap Dati II sebagai sampel. Coba tanyakan sudah punya apa belum definisi operasional SPM yang sudah berupa buku, tanyakan pula kepada setiap pelaksana teknis tentang tatacara pengisian data dan parameternya ....

Yang sudah punya dan jalan, ngga masalah, yang belum juga tidak sulit, adopsi aja lewat internet daripada repot studi banding.
Untuk pembuatan sistem, kita tidak pernah kekurangan pakar, demikian pula rumusan tatacara teknis penyelesaian masalah. Sebut saja peningkatan SDM, akselerasi informasi dan sebagainya.
Mungkin ada hal lain yang kita lupakan, yakni faktor non teknis sebagaimana "omelan" para pelaksana lapangan.
Seorang pensiunan paramedis pernah cerita kepada saya, bahwa selama beliau bertugas sejak tahun 1967, entah sudah berapa kali sistem dan laporan berubah-ubah. Beliau mengatakan:"Daripada stres, turuti aja. Minta 80% beri 85%, daripada repot-repot berdebat". Nah .....
Tidak semua mau jujur seperti beliau dan tidak semua bersikap seperti beliau, namun suara hati nan sayup-sayup tersebut patut kita jadikan sandaran pertimbangan kala memutuskan sesuatu.
Kembali ke topik SPM, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Indonesia sehat 2010 tinggal beberapa tahun lagi, dan SPM adalah salah satu alat ukurnya. Untuk itu tidak ada salahnya kita selalu berbenah menuju perbaikan sesuai garis-garis besar parameter sebagaimana termaktub dalam 26 parameter SPM.

Kepada Dinkes Dati I maupun Dati II yang telah berhasil mengejawantahkan SPM dalam bentuk definisi operasional, bahkan menayangkan di internet sebagai upaya penyebar luasan informasi, saya sangat bangga ... dan salut.

Semoga upaya tersebut dicatat sebagai amal ibadah.
Untuk yang belum punya silahkan download di dinkes Jatim, Jateng (mungkin masih ada yang lain), sedangkan preview spm yang saya buat dalam bentuk eBook flipping, ngga bisa upload karena filenya gede, mohon maaf ...

Selamat bekerja, sukses selalu...
:)

Efek ekstrapiramidal obat antimuntah

Di bawah ini adalah kejadian yang mungkin pernah dialami dalam kehidupan seorang dokter saat memberikan pengobatan kepada para pasiennya ...
Dimaksudkan untuk berbagi .... (bukan review, bukan pula penelitian...)

Dalam praktek sehari-hari, di RS, puskesmas, atau klinik, atau di praktek pribadi .... pernahkah kita melihat pasien menunjukkan gejala ekstrapiramidal setelah minum antimuntah? Bagaimana mengatasinya?

Mungkin diantara kita pernah memberikan obat antimuntah, lalu pasien kembali datang dengan kondisi:
Lidah kelu, mulut perot, liur menetes, wajah kaku, leher sulit digerakkan dan berjalan tak terkontrol seperti robot atau berjalan miring-miring disertai kaku tangan, leher dan seluruh wajah, seperti yuyu kangkang ...
itulah efek ekstrapiramidal sebagai akibat efek samping obat antimuntah.
Pemakaian klorpromazin (25 mg), perfenazin (turunan promazin, 2-4 mg) sebagai antimuntah memberikan kemungkinan terjadinya efek ekstrapiramidal lebih besar dibanding antimuntah yang sering kita kenal seperti metoklopramid, domperidon dan sejenisnya.

Contoh kasus:
Seorang anak, berumur 10 tahun mendapatkan metoklopramid 3x 1 (10mg) tablet karena muntah. Beberapa saat setelah minum obat, si anak berbicara cedal, lidah kaku kemudian makin lama lehernya kaku menoleh ke salah satu sisi, lidah makin menjulur, dan berjalan miring seperti yuyu kangkang. Mendapati si anak dalam kondisi seperti di atas, sudah barang tentu pihak keluarga panik. (hasil hetero-anamnesa dari ibu penderita)

Bila mendapati kasus seperti di atas, apa tindakan kita?
(Pada umumnya pihak keluarga membawa serta obat-obat yang sudah diminumkan, setelah kita lihat ternyata ada preparat metoklopramid)
Diberikan pengobatan ataukah dibiarkan sampai efek ikutan tersebut hilang dengan sendirinya?
Jika diberi obat, ..... apa sih yang kita berikan supaya segera pulih seperti semula?
... debatable .... (silahkan lihat kata kunci)

Yuk kita berbagi...

kata kunci:
AH 1 (antihistamin penghambat reseptor H1), etanolamin, antikolinergik sentral, difenhidramin, gangguan keseimbangan komponen kolinergik dan komponen dopaminergik, gejala Parkinson, ekstrapiramidal, klorpromazin, alkaloid, metoklopramid, dopaminergik sentral, dopamino-antikolinergik sentral




© 2006 cak moki | Blogger Templates by GeckoandFly.
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
Learn how to make money online | First Aid and Health Information at Medical Health